Terjaganya Warisan Adat Desa Kemiren

Beberapa tahun lalu, heboh sebuah kisah di suatu platform. Kisah itu merupakan kisah fiksi horor yang banyak dipercaya merupakan sebuah kisah nyata. Menceritakan sejumlah mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa yang disebut Desa Penari, namun penuh misteri. Banyak yang bilang Desa Penari yang dimaksud ialah Desa Kemiren, berdasarkan kemiripan lokasi serta kentalnya adat dan budaya.

 

Pintu masuk Desa Kemiren (sumber: radarbanyuwangi.jawapos.com)

Siapa sangka kini nama Desa Kemiren kembali menggaung, tak hanya di dalam negeri namun juga di kancah internasional. Desa kecil di ujung timur Pulau Jawa ini tepatnya berada di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Desa Kemiren yang juga dikenal sebagai desa adat suku Osing, berhasil mempertahankan tradisi leluhurnya dan meraih beberapa penghargaan internasional. Di antaranya: ASEAN Tourism Award (ATA) 2025 dan Upgrade Programme of Best Tourism Villages by UN Tourism 2025.

 

ASEAN Tourism Award 2025 merupakan penghargaan yang diinisiasi negara anggota ASEAN sebagai bentuk apresiasi atas upaya yang dilakukan pelaku pariwisata sehingga bisa menghadirkan destinasi wisata yang unggul nan berkualitas. Dengan demikian diharapkan visi ASEAN sebagai single destination dapat segera terwujud. Asean Tourism Award 2025 digelar pada Senin 20 Januari 2025 lalu di Persada Johor Convention Centre, Johor, Malaysia. Nama Desa Kemiren masuk dalam kategori pemenang 5th ASEAN Homestay Award, bersama dengan 4 desa lainnya, yaitu: Desa Wisata Perkampungan Adat Nagari Sijunjung (Sumatra Barat), Desa Wisata Kaki Langit (Yogyakarta), Desa Wisata Sudaji (Bali) dan Desa Wisata Saribu Gonjong (Sumatra Barat).

 

Desa Kemiren yang kini lebih dikenal dengan nama Desa Wisata Adat Osing Kemiren juga menerima penghargaan Upgrade Programme of Best Tourism Villages by UN Tourism 2025. Penghargaan ini diumumkan di acara UN Tourism Best Tourism Villages Ceremony and Third Annual Meeting of the BTV Network, pada 17 hingga 18 Oktober 2025 lalu di Anji, Huzhou, Tiongkok. Penghargaan ini sebagai bukti bahwa Desa Kemiren menunjukkan model pengelolaan pariwisata yang telah memenuhi standar penilaian internasional. Hebatnya lagi, berhasil mengalahkan 270 desa wisata pendaftar dari 65 negara di dunia.

 

Penghargaan-penghargaan yang didapat Desa Kemiren menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha mampu menciptakan perubahan positif. Hal ini juga karena masyarakat berhasil melindungi warisan adat, menjaga sumber daya alam, dan menciptakan peluang ekonomi wisata. Kemampuan ini didapat -salah satunya- berkat dampingan Astra Indonesia yang membentuk Kampung Berseri Astra (KBA) Kemiren. Ada 4 pilar yang diusung yakni lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan kewirausahaan.

 

Misalnya pada pilar lingkungan, Astra menerapkan ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik dan biogas rumah tangga, juga kampanye pengurangan plastik sekali pakai di kawasan wisata. Dengan demikian kebersihan lingkungan desa jadi terjaga. Pada sektor kesehatan ada pelatihan kader kesehatan, program penemuan dini ibu hamil sehingga kecukupan gizi di awal kehamilan jadi tercukupi dilanjut dengan sektor pendidikan dimana fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diperkuat serta pelatihan kreativitas guru dan anak-anak. Untuk sektor kewirausahaan, Astra membimbing pelatihan bisnis, pengembangan took souvenir dan promosi wisata baik seni, budaya hingga kuliner khas Osing.

 

Desa Kemiren memang unik karena bermula dari keinginan masyarakat setempat untuk tetap melestarikan budaya suku Osing. Identitas seperti bahasa, arsitektur rumah adat, serta berbagai ritual tradisional terus terjaga secara turun-temurun. Kita bisa melihat bagaimana arsitektur rumah adat juga diterapkan pada homestay di Desa Kemiren sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman yang berbeda saat menginap di sana. Berkat kesederhanaan dan keramahtamahan pengelola homestay, Desa Kemiren kian mendunia karena wisatawan bisa merasakan bagaimana sambutan yang penuh dengan dengan nilai kearifan lokal.

 

Tidak hanya itu, ada beberapa acara tahunan yang membuat Desa Kemiren istimewa. Seperti misalnya acara tahunan Festival Kopi Sepuluh Ewu yang digelar pada 8 November 2025 lalu. Ini adalah festival minuman kopi gratis yang digelar di sepanjang jalur utama Desa Kemiren. Dengan merepresentasikan 3 konsep dalam menyambut tamu yaitu suguh, gupuh, dan lungguh, wisatawan jadi antusias mengkutinya.

 

Suguh artinya memberikan hidangan terbaik. Setiap keluarga warga Desa Kemiren menjejerkan meja yang isinya kopi, gula dan produk UMKM lokal lainnya. Kopi dan gula disuguhkan gratis karena disubsidi oleh pihak desa, namun untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, maka ada penjualan produk UMKM. Lalu gupuh berarti gambaran sikap tuan rumah yang sigap dan hangat dalam menyambut tamu, dan lungguh artinya menyediakan tempat terbaik.

 

Kalau di Desa Kemiren, kopi yang kerap disuguhkan ialah kopi jaran goyang. Terdapat 4 varian kopi jaran goyang, yaitu kopi robusta, robusta lanang, arabika, dan arabika lanang. Biasanya konsumsi kopi dibarengi dengan menikmati camilan bernama kelemben. Kelemben ialah bolu kering berasa manis dan gurih, biasanya jadi suguhan saat lebaran. Camilan ini masih dibuat secara tradisional dimana dipanggang menggunakan tungku tradisional yang menggunakan kayu bakar.

 

Tentunya tidak hanya suguhan kopi, digelar juga kesenian tradisional. Sehingga, wisatawan yang datang tidak hanya bisa menikmati kopi, tetapi juga bisa melihat kearifan budaya setempat. Salah satu kesenian tradisional yang terkenal bernama Tari Gandrung Banyuwangi. Ini bukan sekadar pertunjukan estetis, tetapi juga representasi historis tentang penghormatan kepada Dewi Sri sang simbol kesuburan. Tarian ini lalu berkembang menjadi ikon identitas Banyuwangi, sekaligus menjadi sarana komunikasi budaya yang menyatukan masyarakat dengan masa lalunya.

 

Tari Gandrung (sumber: kemiren.com)

Ketika musim panen, ada pertunjukan seni unik yang ditampilkan. Namanya Gedhongan. Ini tradisi sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang berlangsung. Dengan memukul lesung dan alu, diiringi alunan angklung dan tabuhan gendang, warga Desa Kemiren memainkan musik dengan sangat indah.

 

Tradisi unik lainnya bernama mepe kasur, tradisi di awal bulan Dzulhijjah atau bulan ke-12 dalam kalender Hijriah. Tradisi ini menjemur kasur merah hitam sebagai simbol untuk pembersihan diri. Warga Suku Osing yang merupakan suku asli di Banyuwangi -utamanya di Desa Kemiren- mempercayai bahwa dibalik tradisi ini terselip doa dan pengharapan bagi generasi Osing di masa depan. Tradisi yang berarti menjemur tempat tidur ini juga menjadi simbol membersihkan bagian dalam rumah dari pengaruh energi buruk.

 

Ada alasan tersendiri mengapa warna kasur merah-hitam. Hal ini karena saat Suku Osing menikahkan anak mereka, selalu membekali mereka dengan kasur yang sengaja diberi warna merah dan hitam. Warna ini bermakna doa yang akan terus dipanjatkan sepanjang hayat. Sebab warna merah bermakna keabadian rumah tangga sedangkan hitam itu bermakna tolak bala.

 

Tradisi lainnya ada ritual Barong Ider Bumi, yakni tradisi mengitari desa yang bertujuan tolak bala. Setiap tahunnya pada hari kedua bulan Syawal atau bulan ke-10 dalam kalender Hijriah, upacara sinkretisme yang juga bagian dari keyakinan adanya keberadaan danyang di Kemiren yakni dikenal dengan Buyut Cili ini diadakan. Danyang adalah roh halus pelindung suatu daerah dalam budaya Jawa. Dalam tradisi Barong Ider Bumi melibatkan sederet sajian seni pertunjukan yang diwujudkan dalam arak-arakan.

 

Arak-arakan dilaksanakan saat tengah hari. Berangkat dari Rumah Barong dan berakhir di tempat pelaksanaan selamatan. Penentuan arak-arakan dimulai dari timur ke barat dimana diawali dengan 2 orang membawa umbul-umbul khas kemiren, dilanjutkan dengan sekelompok Kesenian Barong, pemuka adat yang menabur sesajen, ibu-ibu menggendong Bokor Kuningan Sesaji, Pembawa Tumpeng, Kelompok Jaran Kecak, Kelompok Musik Rebana, dan Kelompok Aparat Desa. Arak-arakan kemudian diakhiri dengan diadakannya selamatan di atas gelaran tikar, berdoa dan makan bersama dengan menu khas Osing yakni Pecel Pithik.

 

Pecel Pithik (sumber: kemiren.com)

Pecel Pithik merupakan hidangan ayam kampung muda yang dimasak dengan cara dipanggang secara utuh. Beberapa bumbu yang digunakan untuk membuat pecel pitik adalah kemiri, cabai rawit, terasi, daun jeruk, dan gula. Bumbu dihaluskan lalu dicampur dengan parutan kelapa muda. Penyajiannya cukup menarik, karena ayam yang telah dipangang selanjutnya disuwir menggunakan tangan. Setelah itu, daging ayam dicampur dengan parutan kelapa yang sudah dibumbui. Rasanya sungguh lezat sekali.

 

Daya tarik wisata Desa Kemiren bukan hanya berupa alam asrinya, namun lebih ke atraksi budaya dan edukasi tentang budaya Osing. Terjaganya warisan adat Desa Kemiren membuat banyak wisatawan baik domestik maupun manca negara yang mengunjunginya. Kalau mau ke Desa Wisata Osing Kemiren, lokasinya cukup strategis, karena bila memakai kereta api maka perjalanan dari stasiun ke lokasi hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Dengan adanya 50 pemilik homestay, tidak perlu ragu lagi untuk menginap dan mengenal Suku Osing. Terlebih sudah ada 40 pelaku pasar lokal dan 40 anggota Pokdarwis Kemiren yang aktif mendukung kegiatan pariwisata.

 

 

Sumber informasi:

https://jatim.suaramerdeka.com/wisata/108816169577/kampung-berseri-astra-kemiren-raih-penghargaan-un-tourism-2025

https://travel.kompas.com/read/2025/10/19/153100627/desa-wisata-osing-kemiren-banyuwangi-dapat-penghargaan-dari-pbb-ini

https://travel.kompas.com/read/2025/10/20/054804127/festival-kopi-sepuluh-ewu-ngopi-gratis-8-november-2025.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/short/prestasi-gemilang-janice-tjen-dan-aldila-sutjiadi-juara-ganda-wta-250-chennai-open-2025

https://radarbanyuwangi.jawapos.com/seni-budaya/754533656/ritual-barong-ider-bumi-desa-kemiren-banyuwangi-makna-dan-sejarah-dibalik-pergelarannya

https://kemiren.com

 

Komentar